Tanda Apakah ini??

 

Seorang penulis berkebangsaan Kanada akan menjadi wanita Muslim pertama yang memimpin sebuah jamaah gender campuran di Inggris melalui sholat Jumat.Ia membuat gerakan yang sangat kontroversial yang akan mencetuskan sebuah perdebatan tentang peranan pemimpin ibadah wanita di dalam Islam.

Raheel Raza, seorang aktivis HAM dan penulis yang berasal dari Toronto, telah diminta untuk memimpin sholat dan menyampaikan khotbah pada sebuah sesi jamaah sholat di Oxford.Ia diundang oleh Dr. Taj Hargey, seorang yang digambarkan sebagai Imam yang berkhotbah tentang sebuah interpretasi Islam liberal yang berpendapat, satu diantara yang lain, bahwa para pria dan para wanita seharusnya diijinkan untuk berdoa bersama dan bahwa para imam wanita seharusnya memimpin jamaah campuran dalam sholat berjamaah. Raza (60) adalah bagian dari sebuah kelompok kecil Muslim feminis yang sedang berkembang, yang berusaha untuk menantang pola pikir yang secara tradisional mengecualikan para wanita dari peran-peran kepemimpinan di dalam Masjid. Mereka berargumen bahwa tidak dimana pun di dalam Al-Quran, dengan tegas imam wanita dilarang.

 

Malahan, para terpelajar Muslim mengandalkan hadis (kata-kata dan ucapan Nabi Muhammad) yang mengatakan untuk mengecualikan para wanita – walaupun para feminis Muslim dan beberapa kaum terpelajar progresif berargumen bahwa hadis tersebut tidak cukup jelas untuk mengatakan dengan percaya diri bahwa wanita sama sekali dilarang. Penampilan Raza di Oxford merupakan sebuah pengulangan dari sesi sholat yang sama pada 2008 yang dipimpin oleh Amina Wadud, seorang kelahiran Amerika yang masuk Islam dan seorang feminis Muslim. Namun ini yang pertama kali, seorang wanita yang dilahirkan Musllim akan memimpin sebuah layanan sholat jamaah campuran di Inggris.Jamaah Wadud dihadiri oleh sekelompok jamaah kurang dari 40 orang yang diganggu dalam perjalanannya menuju tempat sholat oleh para pemrotes, yang sebagian besar dipenuhi wanita Muslim berjilbab. Sementara itu di dalam ruangan sholat, dipenuhi oleh para jurnalis.

Dalam beberapa tahun ini, terdapat permintaan yang berkembang dari para wanita Muslim untuk dimasukkan dan diwakili di Masjid mereka. Pada awal minggu ini Faith Matters (masalah keimanan), pemikir resolusi konflik yang dibiayai oleh pemerintah dan donatur swasta, mengeluarkan sebuah daftar 100 Masjid wanita. Jumlah wanita Muslim terpelajar, sementara itu, sering disebut sebagai imamah, juga bermunculan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s