Luasnya Ilmu Allah

“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang banyak?” (Nabi mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui” (al-Baqarah:247).

Kisah yang diberitakan al-Qur’an di atas menunjukkan betapa kita tidak bisa dengan seenaknya mengatakan diri seseorang hanya karena tidak tampaknya materi (kekayaan) yang dimilikinya dipandang tak berilmu dan tak kuat dalam menghadapi berbagai persoalan. Dunia ini menjadi tempat manusia sering salah menilai seseorang dari cara atau gaya hidupnya. Allah Swt tidak menilai seorang manusia dari kepemilikan materi dunia, melainkan dari aspek dirinya sebagai orang yang bertakwa. Allah Swt Maha Kaya atas diri-Nya, yang dengan itu, Dia akan memberi kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Allah Swt berkehendak menjadikan orang bertakwa mulia di sisi-Nya! Allah Swt tidak memilih orang menjadi mulia dari kekayaan yang dimilikinya.

Ukuran kemuliaan seseorang, dengan demikian, terletak dari kedekatan dengan Tuhannya! Semakin dekat seseorang yang beriman kepada Allah, maka semakin menjadi mulia dirinya. Arti dekat dapat didefinisikan sebagai tiadanya keinginan yang bersifat material dalam diri seseorang selain berharap dirinya sangat dicintai oleh Allah Yang Maha Mulia. Saya, misalnya, berharap sebuah rumah mewah di atas perbukitan (vila) dengan kekayaan yang saya miliki untuk tempat menginap bila suatu hari libur. Rumah itu sebetulnya hanya saya singgahi satu minggu sekali. Untuk memelihara rumah itu saya sewa beberapa pembantu, dan mereka menempati rumah itu. Dalam hati, saya merasa puas karena saya memiliki rumah tersebut, walau jarang ditempati. Kepemilikan rumah menjadi kepuasan jiwa! Luar biasa. Dalam jiwa saya yang semacam itu, saya telah diperbudak oleh nafsu duniawi.

Kepemilikan merupakan aset yang tak memiliki nilai spiritualitas sama sekali. Apa bedanya anak kecil yang berharap memiliki sepeda mini? Anak itu dengan sangat girang merasakan kepuasannya ketika sepeda yang diharapkannya datang dibawa oleh orang tuanya. Kepemilikan rumah mewah oleh orang dewasa dengan kepemilikan sepeda mini oleh anak-anak tak ada bedanya. Keduanya bertumpu pada nafsu materi. Allah tidak dapat didekati dengan kekayaan (materi), tetapi dihampiri dengan hati yang bernilaikan intan berlapis emas! Sebanyak apapun kekayaan materi manusia tak terkalahkan oleh Dia Yang Maha Kaya! Bukankah semua yang dimiliki manusia adalah pemberian dari Allah? Adakah manusia yang dapat membuat emas, intan, minyak, gas, uranium, seng, batu, air, ikan, tumbuh-tumbuhan, langit dan bumi? Dia Sangat Kaya akan kekayaan-Nya sendiri yang dimanfaatkan oleh makhluk-Nya. Jelaslah, bahwa Allah Swt tidak dapat didekati dengan kekayaan (materi) bila berharap kemuliaan-Nya! Bila kekayaan itu dikorbankan untuk mendekati-Nya, maka nilai pengorbanannya yang dapat mengantarkan manusia menuju kepada-Nya.

Sekiranya kita kaya raya tetapi tidak ada niat untuk menolong para penempuh jalan Allah (salik/fi sabilillah), maka kekayaan itu tak berarti apa-apa selain menjadi tanggungan di akhirat kelak. Menikmati kekayaan Allah beresiko harus dapat mempertanggungjawabkannya sebahagian untuk menafkahi mereka yang patut untuk ditolong. Andaikan kita tahu ada sementara orang beriman yang sangat membutuhkan uluran tangan untuk menyebarluaskan ilmu Allah, tetapi kita berpura-pura tidak tahu, maka Allah pasti akan menegur kita. Adakah kekayaan yang dimiliki seseorang dapat menyelamatkan dirinya dari pembalasan keras Allah? Tidak ada selain Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengampun. Saya mengimbau kepada yang merasa menyimpan kekayaan (materi) agar segera diinfakkan untuk menolong kaum mukmin yang sedang berada di dalam keluasan ilmu Allah. Saya bukan bermaksud meminta untuk kepentingan dakwah, tetapi mengingatkan agar jangan menyimpan harta yang menjadikan Allah marah. Allah Swt sangat marah apabila ada kaum mukmin mengetahui ayat-ayat-Nya tetapi membiarkan peringatan-Nya. Buanglah jauh-jauh dari rasa takut miskin bila mengeluarkan dari kelebihan harta. Surga Allah tak akan dapat ditukar dengan harga yang murah. Akan tetapi, justru neraka sangat mudah untuk menyeret mereka yang hartanya tertumpuk dan tak mau dikeluarkan. Allah Swt mengajarkan dengan kemuliaan bukan dengan kekikiran. Allah Swt memuliakan seorang hamba dari ilmu-Nya yang diperoleh karena mendekati-Nya melalui suatu perjuangan untuk tetap beriman dan beramal soleh.

Adakah seorang mukmin yang berharta dan berilmu tetapi enggan untuk berbagi ilmunya atau kekayaannya? Jika seorang mukmin merasa telah berilmu, juga berharta, sungguh tak patut dengan ilmunya tidak disebarluaskan, dan dengan hartanya hanya untuk kebanggaan diri. Luasnya Ilmu Allah menunjukkan bahwa Dia Maha Mengetahui atas seluruh ciptaan-Nya; dari hewan, tumbuh-tumbuhan, jin, manusia hingga malaikat mulia. Tiada yang luput dari ilmu-Nya. Allah Maha Mengenal siapa pun manusianya, apakah merasa sudah beriman atau mengaku memiliki ilmu pengetahuan. Seandainya ada yang berpura-pura tak mengetahui ajakan Allah, maka Dia lah yang pasti akan mengingatkannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s