Perbaikan Diri Insani

Dunia tak pernah berhenti menawarkan ‘kemolekan’ syahwatnya. Setiap mata memandang, pasti tak pernah merasa rugi. Seolah tiada lelah menikmati keindahan yang mematikan. ‘Racun’ itu telah membius diri yang lalai akan semua pemberian dari Tuhannya.

Dunia begitulah adanya. Diri yang lalai akan mengira bahwa hidup seolah tak ada duanya, seperti hanya dunia tempat persinggahannya. Allah SWT menciptakan manusia, jin, hewan, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain diperuntukan agar menjadi makhluk yang patuh dan taat kepada-Nya. Seluruh ciptaan Allah tunduk dan patuh, kecuali jin dan manusia.

Ketika mereka tidak merendah di dalam kekuasaan Allah, maka jin dan manusia seolah hidup untuk bersenang-senang di dunia. Semua yang menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang makhluk ciptaan terlupakan. Sekali ingat akan kewajibannya, tetap saja lupa akan larangan-Nya untuk tidak dilanggar. Manusia sesungguhnya tak mampu menolak bisikan setan untuk melakukan ajakannya menentang Allah.

Maka, sekiranya Allah SWT tidak mencurahkan rahmat-Nya, merugilah semua yang menyandarkan kehidupannya pada hal-hal yang bersifat materi. Allah SWT sebagai Penguasa atas diri-Nya dalam mengurus makhluk-Nya tidak berlaku kejam. Dia Maha Bijaksana. Tidaklah berbuat seolah tidak ada kasih sayang-Nya. Dengan kasih sayang-Nya, banyak kaum mukmin yang diselamatkan.

Adakah kini kaum beriman berterima kasih kepada-Nya? Sayang sekali saat waktu yang masih tersisa tidak dimanfaatkan untuk merenungi diri atas perbuatan yang melanggar perintah Allah. Jatah hidup tidak terlalu lama habisnya, selain hanya menunggu ajal menjemput.

Akal yang dianugerahkan Allah untuk lebih merenungkan apa yang dapat disaksikan atas tanda-tanda kebesaran-Nya di dunia ini belum difungsikan sebagaimana seharusnya! Sangat tidak berarti bila hidup hanya mengandalkan akal satu-satunya sebagai anugerah Allah. Padahal, banyak sekali anugerah Allah yang dicurahkan Allah kepada manusia dan jin.

Akal bukanlah satu-satunya karunia Allah di dunia ini. Akan tetapi, kebanyakan manusia hanya mengandalkan akalnya saja untuk setiap persoalan. Perbaikan diri adanya bukan di dalam kesenangan, selain dia bersama di dalam kebahagiaan. Maksudnya, perbaikan diri dapat dilakukan dengan meninggalkan hal-hal yang berada di dalam kesenangan lahir! Di balik kesenangan itu, ada tenaga penggoda jiwa yang mematikan.

Sebaliknya, kebahagiaan jiwa akan menuntun diri dapat menikmati kesenangan yang ditunjuki! Kebahagiaan hanya dapat diperoleh sekiranya manusia muslim berubah menjadi bertakwa kepada Allah dan mengikuti ajakan rasul-Nya dengan segenap jiwa mencintainya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s