Employee Engagement Itu Siapa Yang Butuh Sih?

Boleh jadi, sekarang para atasan sedang mencoba mempraktekannya di kantor kita. Sekalipun demikian, upaya itu tidak akan pernah berhasil jika sebagai bawahan kita tidak mengambil porsi tanggungjawab untuk turut mewujudkannya juga. Lho, bukankah meningkatkan employee engagement itu tanggungjawab perusahaan dan atasan kita? Benar. Tetapi jika kita sendiri tidak peduli, maka semua upaya itu akan sia-sia saja. Terus, mengapa kita harus peduli sih? Memangnya siapa yang butuh employee engagement? Namanya juga employee engagement, ya management dong yang lebih berkepentingan? Argumen-argumen itu benar. Sekaligus keliru.

 

Benar karena employee engagement mempengaruhi suasana dan kinerja perusahaan. Keliru karena perusahaan bisa mengganti kita dengan karyawan yang lebih baik, sedangkan kita tidak bisa semudah itu mengganti perusahaan. Lebih keliru lagi karena rendahnya tingkat engagement kita ternyata sangat berpengaruh buruk kepada kesehatan fisik maupun mental kita sendiri. Oleh sebab itu, kita mesti mulai iklhas menerima dan menjalani profesi yang kita pilih. Jika tidak, maka kita akan terkena pengaruh buruknya, baik secara fisik maupun mental. Bagi Anda yang tertarik untuk menemani saya belajar memahami dampak negatif rendahnya employee engagement (EE) kepada pekerjaan, saya ajak untuk memulainya dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intelligence berikut ini:  

 

1.      Rendahnya EE merusak suasana hati sendiri. Rendahnya EE ditandai dengan ketidakikhlasan Anda terhadap pekerjaan atau penugasan yang Anda terima. Jika Anda tidak ikhlas dengan pekerjaan Anda, apakah saat bangun pagi Anda akan merasa senang? Tidak. Anda justru akan menyesali mengapa setiap hari tanggalnya tidak merah semua. Sejak hari Senin hingga Jumat suasana hati Anda terus buruk. Ketika Sabtu tiba, kekesalan Anda masih tersisa. Sedangkan di hari minggu, Anda sudah memikirkan kembali bahwa besok, adalah hari Senin. Banyak orang yang tidak menyadari jika suasana hatinya telah dirusak oleh rendahnya engagement mereka terhadap pekerjaan. Karena itu, mereka mengira perasaan tidak enak saat pergi kerja adalah hal biasa. Padahal, itu harus segera dibenahi.

 

2.      Rendahnya EE menyiksa diri sendiri. Banyak orang yang tahu jika bersikap negatif kepada pekerjaan adalah salah satu cara efektif untuk menunjukkan rendahnya EE. Dan banyak orang yang mengira bahwa bersikap negatif kepada pekerjaan juga sangat efektif untuk ‘memberi pelajaran’ kepada atasan-atasan mereka. Kenyataannya, para atasan yang cerdas tidak terlalu ambil pusing dengan sikap anak buahnya terhadap pekerjaan. Selama tugas-tugas anak buahnaya diselesaikan dengan baik, mereka tidak terlalu mempermasalahkan sikap. Dan jika sikap anak buahnya sudah kelewatan, mereka juga tidak terlalu ambil pusing. Karena mereka memiliki kekuatan untuk menggantinya dengan orang-orang yang lebih baik. Makanya, keliru jika kita mengira bisa ‘mengirim pesan’ negatif kepada atasan dengan cara itu. Sebab, rendahnya EE kita hanyalah akan menyiksa diri kita sendiri.

 

3.      Rendahnya EE menurunkan hasil penilaian kinerja. Misalnya, Anda adalah seorang atasan yang mempunyai anak buah dengan EE yang sangat rendah. Apakah di akhir tahun Anda akan memberi penilaian kinerja yang baik kepadanya? Anda mungkin memberi nilai bagus untuk penyelesaian tugas-tugas sesuai job desc. Tetapi performance appraisal tidak melulu soal selesai atau tidaknya pekerjaan, melainkan juga penilaian tentang perilaku dan sikap karyawan. Jika Anda pun tidak akan pernah memberi nilai bagus kepada anak buah yang punya EE rendah, maka mengapa Anda berharap atasan memberi nilai tinggi kepada Anda yang memiliki EE sama rendahnya? Hukum yang sama pasti berlaku; atasan Anda pun tidak akan pernah memberi penilaian kinerja yang baik kepada Anda jika engagement Anda kepada pekerjaan juga rendah.

 

4.      Rendahnya EE menyebabkan timbulnya penyakit. Ada orang yang memasabodohkan penilaian kinerja atasannya. “Percuma!” katanya. “Tidak ada pengeruhnya kepada kenaikan gaji, juga.” Begitu komentar yang lazim saya dengar. “Bonus saya tidak ada kaitanya dengan appraisal Pak,” kata yang lainnya. Anda boleh tidak peduli seperti mereka itu. Tetapi, penting bagi Anda untuk mengetahui bahwa penelitian yang dilakukan di tingkat global menunjukkan adanya hubungan yang erat antara rendahnya EE dengan penyakit-penyakit yang diderita seorang karyawan. Diantara penyakit yang berkaitan dengan rendahnya EE adalah; sakit kepala, pusing, asam lambung, dan stress yang tidak kunjung sembuh. Menurut pendapat Anda, pentingkah kesehatan itu? Jika iya, naikkah tingkat engagement Anda kepada pekerjaan. Karena rendahnya EE terbukti menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit fisik dan mental yang berkepanjangan.

 

5.      Rendahnya EE menjauhkan kesempatan dipromosi. Tidak perduli betapa banyaknya peluang promosi di tempat kerja Anda, jika hasil penilaian kinerja tahunan Anda buruk, ditambah dengan kesehatan fisik dan mental Anda yang juga buruk, maka kecil sekali kemungkinannya bagi Anda untuk mendapatkan promosi itu. Lagi pula, orang lain bisa dengan mudah merasakan jika Anda tidak benar-benar ikhlas dengan pekerjaan Anda. Orang lain juga tahu jika Anda tidak nyaman di kantor. Jadi, orang lain juga punya alasan untuk mendukung Anda dipromosikan. Padahal setahu saya, sebelum keputusan promosi dibuat; nama setiap kandidat terlebih dahulu ‘diedarkan’ kepada beberapa pengambil keputusan untuk diberi komentar dan masukan. Jadi jika Anda ingin dipromosi, maka pastikan bahwa Anda memiliki tingkat engagement yang tinggi. Karena rendahnya EE hanya akan semakin menjauhkan Anda dari kesempatan untuk dipromosi.

 

Siapa yang lebih berkepentingan dengan engagement selain karyawan sendiri? Tidak ada. Kita sendirilah yang paling berkepentingan. Karena itu, berhentilah menyalahkan perusahaan dan atasan Anda untuk rendahnya tingkat engagement Anda kepada perusahaan. Andalah yang paling berkepentingan. Dan Andalah yang bisa membenahinya untuk diri Anda sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s