Akal Dan Hati

ALLAH SWT menciptakan manusia dengan akal dan hati yang membuatnya berbeda dengan makhluk lainnya. Akal mempunyai peran yang sangat signifikan dalam memutuskan sesuatu. Dengan akal, manusia dapat berfikir, baik itu memikirkan dirinya, orang-orang disekitarnya juga alam semesta. Dengan akal, manusia berupaya mensejahterakan diri dan meningkatkan kualitas kehidupannya.

Pentingnya mendayagunakan akal sangat dianjurkan oleh Islam. Tidak terhitung banyaknya ayat Alqur’an dan Hadis Rasulullah SAW yang mendorong manusia untuk selalu berfikir dan merenung. Manusia tidak hanya disuruh memikirkan dirinya, tetapi juga dipanggil untuk memikirkan alam jagad raya. Dalam konteks Islam, memikirkan alam semesta akan mengantarkan manusia kepada kesadaran akan ke-Mahakuasaan Sang Pencipta (ALLAH SWT). Seperti sabda Rasulullah SAW al-din aql, la dina liman la aql lah (Agama adalah manifestasi akal, maka tidak dianggap beragama orang yang tidak berakal).

Namun demikian, bukan berarti akal begitu sempurna tanpa cacat. Ada sesuatu yang meta-rasional yang terkadang akal tidak mampu menjangkau karena akal hanya dapat memutuskan sesuatu berdasarkan yang nampak, dengan analisa, logika dan rasio. Lebih dari itu, seseorang yang berfikir rasionalis murni terkadang terjebak dalam subyektivisme dan apriori. Sekadar mengingatkan kembali tentang kejadian pertama pengingkaran terhadap Tuhan yang dilakukan oleh akal, dimana saat itu Iblis menggunakan akal untuk berargumen tidak mau sujud kepada Adam dengan alasan merasa penciptaannya yang lebih mulia yaitu dari api dibanding Adam yang hanya tercipta dari tanah.

Akal dan hati ibarat dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Apa yang tidak dikuasai akal dapat dilakukan dengan hati, karena hati dapat mengetahui hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh akal. Dengan kata lain, ketajaman akal harus diimbangi dengan kecerdasan hati. Dalam menentukan sesuatu, keduanya harus terus berdialog tanpa putus. Jika salah satu tidak berfungsi, maka yang terjadi adalah ketersesatan hati dan keblingeran akal.

Ada banyak contoh yang digambarkan dari ummat-ummat terdahulu yang mengingkari Tuhan dengan nafsu dan jastifikasi akal. Salah satunya adalah Kan’an putra Nabi Nuh as. yang menganggap ayahnya tidak logis membuat perahu ditempat yang tidak ada airnya. Juga Raja Namrud yang mengganggap Nabi Ibrahim as. tidak logis dalam menginterpretasikan Tuhannya yang tidak nampak, karena seperti yang disebutkan diatas, akal hanya menerima yang nampak-nampak saja.

Namun demikian, yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah hati yang bagaimana yang dapat menunjukkan kebenaran dari Tuhan? Dalam Al Qur’an ALLAH menggambarkan manusia yang mempunyai hati namun hatinya tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya (Q.S. 7:179; 22:46), mempunyai hati namun keras seperti batu (Q.S. 2: 74). naudzubiLLah min dzalik Sabda Rasulullah SAW menyatakan bahwa di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, bila ia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan bila ia rusak maka rusak pulalah seluruh tubuh. Segumpal daging itu adalah hati.

Hadis Rasulullah SAW lainnya menyatakan bahwa bila manusia berbuat dosa maka tumbuhlah bintik-bintik hitam di hatinya. Bila dosanya bertambah, maka bertambah pulalah bintik-bintik hitam tersebut, yang kadang kala sampai menutup seluruh hatinya. Oleh karenanya, keharusan memelihara hati agar tidak kotor dan rusak, sangatlah dianjurkan dalam Islam. Namun, acapkali hati kembali kotor oleh debu-debu dunia.

Lantas, apa yang harus dilakukan? Dalam kaitan ini, Islam menyeru manusia agar mengagungkan ALLAH (dzikir), membersihkan pakaian dan meninggalkan perbuatan dosa (Q.S. 74:1-5). Semuanya itu diperintahkan dalam kerangka optimalisasi daya kerja hati agar dapat menangkap kebenaran dari Sang pemilik hati. “Tidak dapat memuat dzat-Ku bumi dan langit-Ku, kecuali “Hati” hamba-Ku yang mukmin, lunak dan tenang” (H.R. Abu Dawud).

Pada akhirnya, akal dan hati harus dipadukan secara harmoni. Disamping pentingnya akal dalam menemukan suatu kebenaran juga diperlukan ilham atau petunjuk Tuhan yang diberikan kepada manusia yang datang dari kebeningan hati. Jika kedua ciptaan Allah tersebut dapat digabungkan, maka akan lahirlah seseorang yang berfikir rasional, filosof sekaligus sufi yang pikirannya tinggi mengentas galaksi namun rendah hati di bumi. SubhanaLLah… seperti inilah sosok khalifah yang diamanatkan menjaga bumi. Semoga kita senantiasa dalam taufik dan hidayah-NYA,, dan semoga ALLAH membimbing hati kita menuju ridho-NYA, Amien.. (Oleh: Angga Setyawan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s