Ingin Sehat? Jadilah Pemaaf

Dalam menjalani hidup ini, kita dihadapkan dengan dua pilihan: Disakiti atau menyakiti. Disinggung atau menyinggung. Pada saat kita menyakiti atau menyinggung orang, kita merasa tidak ada beban. Tapi pada saat kita disakiti atau disinggung orang, kita akan merasa sakit hati dan tidak ada keinginan untuk memaafkan. Timbul perasaan dendam. Padahal tidak memaafkan dan dendam itu dapat mengganggu kesehatan.

Semua orang tahu pentingnya kesehatan. Semua orang ingin hidup sehat. Untuk mewujudkan hidup sehat, orang berani mengeluarkan uang ratusan bahkan jutaan rupiah. Padahal untuk menjadi sehat kuncinya hanya satu, jadilah pemaaf (hindari sifat dendam).

“M A A F” hanya empat huruf tapi bagi banyak orang merupakan hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Meminta maaf sulit tapi lebih sulit lagi memberi maaf atau memaafkan. Emang iya sih banyak orang yang bilang kalau hanya maaf di bibir mudah tapi gak begitu dengan di hati. Tapi apa benar minta maaf dan memaafkan itu sulit? Benar! kalau belum tau caranya dan belum tau manfaatnya. Kalau tau cara dan manfaatnya minta maaf dan memaafkan akan menjadi mudah. Di bawah ini aku kasi kamu bocoran tentang manfaat memaafkan tapi kamu jangan kasi tau orang lain loh. Tar kalau mereka tau mereka bisa sehat.

Sebenarnya “Memaafkan dapat mengobati seseorang, perkawinan, keluarga, masyarakat, dan bahkan segenap bangsa. Memaafkan adalah sebuah keputusan dan sekaligus sebuah perubahan nyata dalam pengalaman emosi. Perubahan dalam emosi itu terkait erat dengan kesehatan raga dan jiwa yang lebih baik.”

Jadi ada hal yang perlu kita ingat dan camkan dalam hati yang paling dalam bahwa kita tidak pun menjadi bahagia dengan menyimpan kekesalan di hati. Yang ada, tubuh menjadi lelah karena hasrus menyimpan beban emosi yang tidak tersalurkan dengan baik.

Menurut banyak penelitian yang sedang berkembang dewasa ini, menyimpan dendam dan memelihara rasa sedih di hati dapat mempengaruhi kesehatan fisik maupun mental seseorang. Berita baiknya adalah, ada salah satu cara untuk mengurangi pengaruh buruk dendam atau rasa sedih berkepanjangan bagi kesehatan mental, yaitu dengan memaafkan. Memaafkan bisa mengurangi energi buruk untuk menciptakan kepahitan dan kebencian, demikian pendapat Michael McCullough dan Robert Emmons, peneliti masalah kebahagiaan yang mengedit buku ‘The Psychology of happiness’.

Orang yang tidak memaafkan terkait erat dengan sikap marah, yang berdampak pada penurunan fungsi kekebalan tubuh. Mereka yang tidak memaafkan memiliki aktifitas otak yang sama seperti otak orang yang sedang stress, marah dan melakukan pnyerangan (agresif).

Demikian pula, ada ketidaksamaan aktivitas hormone dan keadaan darah si pemaaf dibandingkan dengan si pendendam atau si pemarah. Pola hormone dan komposisi zat kimia dalam darah orang yang tidak memaafkan bersesuaian dengan pola hormone emosi negative yang terkait dengan keadaan stress.

Sikap tidak memaafkan cenderung mengarah pada tingkat kekentalan darah yang lebih tinggi. Keadaan hormone dan darah sebagaiman dipicu sikap tidak memaafkan ini berdampak buruk pada kesehatan.
Raut wajah, daya hantar kulit, dan detak jantung termasuk yang juga diteliti ilmuwan dalam kaitannya dengan sikap tidak memaafkan. Sikap tidak memaafkan memiliki tingkat penegangan otot alis mata lebih tinggi, daya hantar kulit lebih tinggi, dan tekanan darah lebih tinggi.

Sebaliknya, sikap memaafkan meningkatkan pemulihan penyakit jantung dan pembuluh darah.
Kesimpulannya, sikap tidak mau memaafkan yang sangat parah dapat berdampak buruk pada kesehatan dengan membiarkan keberadaan stress dalm diri orang tersebut. Hal ini akan memperhebat reaksi jantung dan pembuluh penyakit jantung dan pembuluh darah di saat sang penderita mengingat peristiwa buruk yang dialaminya.

Sebaliknya, sikap memaafkan berperan sebagai penyangga yang dapat menekan reaksi jantung dan pembuluh darah sekaligus memicu pemunculan tanggapan emosi positif yang menggantikan emosi negative.
Nah yang di atas ini baru penelitian manusia loh. Untuk mendukung pernyataan-pernyatan di atas mari kita lihat apa yang tertulis dalam kitab suci Al Quran.

Satu ayat berkenaan dengan memaafkan berbunyi: Dan balasan kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tapi barang siapa memaafakan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat baik) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang orang dzalim. QS Asy SYuuraa 42-40
Dengan demikian, Allah dengan jelas memerintahkan kepada kita untuk menjadi seorang pemaaf dan melapangkan dada seluas-luasnya untuk menerima kekurangan orang lain.
Orang yang tidak dapat menerima kekurangan orang lain dan tidak bisa memaafkan kekurangan tersebut adalah orang-orang yang bodoh, karena dengan tegas Allah berfirman, “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf (baik) serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.” (Q.S.7:199).

Dalam ayat lain, Allah berfirman, “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S.An-Nur,24:22).

Memaafkan yang diajarkan oleh agama Islam adalah memaafkan yang tulus dan tanpa tendensi apa pun. Sering kita dengar orang yang mengatakan dirinya telah memaafkan tapi raut wajahnya masih menampakkan kemarahan dan kebencian.

Memaafkan itu datang dari hati, bukan dari mulut saja. Memaafkan itu dilakukan bukan dengan melihat besar kecilnya kesalahan. Kesalahan tetaplah kesalahan dan memaafkan tetaplah memaafkan. Tidak boleh ada perbedaan besar kecilnya kealahan.

Perbuatan memaafkan bukanlah perbuatan yang hina. Nabi Muhammad bersabda, “Memaafkan tidaklah menambah sesuatu kepada seorang hamba kecuali kemuliaan. Oleh karena itu perbanyaklah kalian memaafkan, niscaya Allah akan memuliakan kalian.” (H.R.Ibnu Abiddunya)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s