Menyadari Dosa Kita Di Kantor

Setiap umat memiliki ritual penyucian dosanya masing-masing. Dalam Islam, tidak ada orang yang bisa menggantikan tanggungjawab atas dosa yang pernah dilakukan oleh orang lain. Bahkan Nabi Muhammad sekalipun. Setiap malam, seorang muslim dianjurkan untuk melakukan ‘muhasabah’ atau menghitung sendiri dosa yang dilakukannya selama satu hari yang sudah dijalaninya. Lalu bertaubat kepada Tuhan, dan meminta maaf kepada sesama. Saking pentingnya membersihkan diri dari dosa itu, sampai-sampai Tuhan menyediakan waktu khusus setiap tahun selama sebulan penuh untuk bersih-bersih secara fisik, lahir, dan batin. Merenung dan menghindari dosa baru. Lalu diakhiri dengan permintaan maaf. Bulan itu disebut sebagai Ramadhan atau bulan ampunan, yang kemudian di tutup dengan Iedul Fitri. Artinya, hari kembali kepada fitrah manusia sebagai mahluk yang suci seperti ketika dia dilahirkan dari rahim bunda.

Ada dosa yang kita sadari. Misalnya, seorang suami sadar benar dosa yang sudah dilakukannya kepada istrinya. Sebaliknya, meskipun suaminya tidak tahu, tetapi seorang istri sadar sekali dosa yang sudah dilakukannya dibelakang suaminya. Ada juga dosa yang tidak kita sadari. Salah satunya adalah dosa yang kita lakukan di kantor. Ada tindakan atau perbuatan yang kita lakukan di kantor yang sebenarnya adalah dosa namun tidak selalu dengan mudah kita menyadarinya. Saya pribadi berusaha keras untuk melakukan introspeksi diri apakah dulu ketika masih bekerja sebagai seorang profesional saya melakukan dosa yang tidak disadari itu. Setelah direnungkan, ternyata memang begitu banyak dosa yang pernah saya lakukan di kantor. Sungguh menyesal saya karena selama belasan tahun tidak menyadari itu. Meski mungkin terlambat, tetapi saya berusaha untuk membersihkannya. Bahkan saya menuangkan beberapa diantara dosa di kantor itu dalam buku Tuhan, Terimalah Taubatku yang saya tulis. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menyadari dosa kita di kantor, saya ajak memulainya dengan menggunakan kemampuan Natural Intellligence untuk menyadari 5 dosa di kantor yang mungkin sudah kita lakukan berikut ini:

1. Dosa kepada bawahan.
Khusus bagi mereka yang sudah mendapatkan kepercayaan sebagai pemimpin di kantor. Mungkin foreman, supervisor, manager, direktur. Sesekali, renungkanlah apa yang sudah kita lakukan kepada anak buah. Terutama mereka yang perfeksionis, dominan, dan penuntut seperti saya. Soal ini, sudah sejak lama saya menyadarinya. Bahkan saya pernah dipanggil oleh atasan saya yang mengingatkan jika ada anak buah saya yang langsung mengadu kepadanya tentang gaya memimpin saya yang keras. Pemimpin yang lebih banyak memakai logika seperti saya sering gagal memahami perasaan orang lain. Ini pekerjaan yang ada ukurannya. Bukan soal perasaan. Padahal, sebagian besar orang adalah perasa, termasuk kaum pria. Dengan fakta itu, sudah jelas sekali jika selama memimpin saya telah melukai banyak hati. Apakah Anda merasa sudah menjadi pemimpin yang baik? Sebaiknya jangan dijawab sebelum Anda benar-benar memahami apa yang dirasakan oleh anak buah Anda selama berada dibawah kepemimpinan Anda. Faktanya, banyak sekali atasan yang merasa segalanya baik-baik saja, padahal mereka tidak menyadari jika anak buahnya menggunjingkan mereka dibelakang.

2. Dosa kepada atasan.
Jika Anda tidak memiliki 100% saham perusahaan, maka setinggi apapun jabatan Anda tetap saja Anda seorang bawahan. Banyak bawahan yang menilai atasan hanya dari sisi buruknya saja; tidak peduli, egois, tidak mau mendengar. Hanya sedikit bawahan yang melakukan introspeksi kepada perilakunya sendiri. Jadilah orang yang sedikit itu, yaitu bawahan yang menyadari bahwa boleh jadi Anda belum menjadi bawahan yang terbaik bagi atasan Anda. Izinkan saya mengajak Anda untuk secara obyektif mengevaluasi perilaku-perilaku kita yang mungkin telah menyakiti, menyulitkan, bahkan menempatkan atasan kita pada posisi yang serba sulit. Percayalah, atasan Anda belum tentu memegang semua kewenangan sehingga dia tidak bisa meluluskan semua tuntutan Anda. Bekerjasamalah dengan atasan Anda, untuk mendapatkan hal terbaik bagi semua. Bagi Anda, bagi dia, bagi kolega Anda, bagi team Anda, dan bagi perusahaan Anda. Belajarlah mengurangi pandangan dan dugaan negatif tentang atasan Anda. Karena semua citra mental negatif itu hanya akan menimbulkan keengganan dalam hati Anda untuk bersikap koperatif dengannya. Celakanya lagi, tanpa kita sadari kita telah berbuat dosa melalui gunjingan, dan kebiasaan menjelek-jelekkan atasan. Bukankah sekedar menggunjing pun sudah dosa hukumnya?

3. Dosa kepada rekan sejawat.
Secara naluriah, kita memposisikan diri sebagai pesaing bagi teman-teman di kantor. Entah Anda akui atau tidak. Jika ada satu posisi penting yang Anda ingin raih, maka Anda mulai memandang siapa saja pesaing potensial dalam usaha mewujudkan ambisi Anda. Normal? Tentu. Tetapi, kita sering kelewat batas dan menodai persaingan itu dengan tindakan-tindakan tidak sportif. Modus operandinya bisa macam-macam. Ada yang membajak ide, misalnya. Teman kita mendiskusikan idenya kepada kita, lalu kita ‘menjual’ ide itu kepada atasan seolah-olah itu ide kita. Ada yang menyebarkan isyu buruk tentang pesaingnya. Jika isyu itu salah, maka itu menjadi fitnah. Jika isyu itu benar, maka hukumnya menjadi; ‘membuka aib orang lain’. Fitnah lebih kejam dari pembunuhan, sehingga hukuman bagi mereka yang suka memfitnah adalah dimurkai Tuhan. Sedangkan ‘membuka aib orang lain’ dilarang keras dalam agama, sehingga hukuman bagi mereka yang suka membuka aib orang lain adalah; Tuhan membalas mempermalukan dia didunia dan diakhirat. Kita sering mengira ini hanya tahayul. Hey, tidakkah cukup bukti yang kita lihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Tuhan sudah menjatuhkan hukuman dunia kepada tukang fitnah dan para penyebar aib? Yuk, mari mulai sadari dosa kita kepada rekan sejawat.

4. Dosa kepada pelanggan.
Coba dipikir sekali lagi, pernahkah Anda melakukan sesuatu yang merugikan pelanggan? Nabi Syu’aib adalah utusan Tuhan yang banyak mengatur tentang ahlak perniagaan. Beliau mengajarkan betapa Tuhan menginginkan kita jujur kepada pelanggan dan memperlakukan mereka dengan sebaik-baiknya. Apa saja contoh hal yang merugikan pelanggan? Tanyakan saja kepada hati nurani Anda sendiri, karena Anda mengetahuinya dengan pasti. Sori ya, saya orang supporting function; tidak pernah berurusan dengan pelanggan. Hey, ingatkah Anda bahwa pelanggan itu ada 2 jenis; External Customer dan Internal Customer atau orang-orang dalam office. Misalnya, reimbursement orang lapangan yang sering Anda tunda-tunda karena Anda tidak suka pada seseorang. Atau urusan orang sekantor yang Anda persulit dengan berbagai alasan. Hati-hati. Anda tidak akan pernah kuat memikul dosa yang tanpa kita sadari itu. Bahkan orang office pun bisa berbuat dosa kepada pelanggan eksternal. Misalnya, ketika orang pabrik bekerja asal-asalan sehingga kualitas produk atau jumlah timbangannya tidak sesuai dengan standard atau klaim yang tertera dalam kemasan. Nabi Syu’aib berjuang keras untuk mengingatkan kita tentang hal seperti itu. Orang finance juga bisa berbuat dosa kepada pelanggan eksternal. Misalnya, tagihan yang sering ditunda-tunda sampai pelanggan atau vendor Anda bolak balik menelepon perusahaan Anda. Anda telah merusak reputasi perusahaan. Dan Anda telah berdosa kepada mereka.

5. Dosa kepada pemilik modal.
Bagaimana mungkin kita bisa melakukan dosa kepada pemilik modal? Kenal juga tidak. Itulah masalahnya. Kita tidak mengenal kepada siapa kita sedang berbuat dosa ketika melakukan sesuatu yang merugikan perusahaan. Padahal segala kerugian itu berdampak langsung kepada neraca keuangan perusahaan. Lho, saya tidak pernah korupsi lho! Benar, mungkin kita tidak sampai sejauh itu. Tetapi, coba perhatikan sekali lagi benarkah demikian. Hal sederhana misalnya, pernahkah Anda membawa pulang kertas milik kantor? Staples? Selotipe? Lalu menggunakan semua itu untuk keperluan pribadi di rumah atau diberikan kepada anak-anak kita? Tapi kan itu kecil! Justru dosa kecil yang kita lakukan selama bertahun-tahun itulah yang tanpa terasa akan menggunung. Telepon kantor, kita gunakan untuk kepentingan pribadi lebih banyak daripada untuk kepentingan kerja itu sendiri. Ini juga sumber dosa. Para pencoleng dan pembobol uang perusahaan dilubuk hatinya mengakui dosa. Dan sesekali dia menyesal juga. Kita? Duh, kita ini tidak mendapatkan banyak dari sisi materi. Tidak sebanyak yang mereka gelapkan. Tapi dosa kita tanpa disadari telah semakin banyak. Semakin tidak sadar kita, semakin tidak bertaubat kita. Mungkin para koruptor sempat bertaubat, tetapi kita? Tidak. Karena tidak sadar telah berbuat dosa.

Guru kehidupan saya tidak pernah bosan mengingatkan tentang pentingnya nafkah yang halal. Dalam Islam, jika kita sekali saja memakan nafkah yang haram, maka doa kita selama 40 hari tidak akan dikabulkan oleh Tuhan. Lebih dari itu, setiap suap makanan haram yang kita berikan kepada anak dan istri akan tumbuh menjadi daging dan tulang santapan api neraka. Dampak negatifnya akan tercermin dalam buruknya perangai dan perilaku mereka. Kasihan istri kita. Kasihan anak-anak kita. Tanpa mereka sadari telah menyantap rezeki yang tidak berkah yang kita berikan kepada mereka. Pantaslah jika doa-doa kita sulit sekali untuk dikabulkan. Saya bersedia menerima konsekuensi itu untuk menebus semua kesalahan saya dimasa lalu. Namun, sulit bagi saya untuk menerima kenyataan bahwa istri dan anak-anak saya juga ikut terseret kedalam belenggu dosa karena nafkah tidak berkah yang saya berikan. Tuhan, Terimalah Taubatku. Dan bersihkanlah pengaruh dosa itu dari istri dan anak-anakku.

Setiap nafkah berkah yang kita bawa pulang sangat menentukan perilaku, perangai, dan masa depan anak-anak yang kita nafkahi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s