Ini Hari Pertama, Ataukah Hari Terakhir?

Setelah liburan panjang, ini merupakan hari pertama kita kembali masuk kantor. Hari pertama setelah liburan memiliki karakteristik yang unik, misalnya; ‘mesin’ yang belum panas sehingga seolah ada yang menahan kita untuk langsung ‘terjun’ ke kancah pekerjaan. Atau seperti baru bangun dari tidur, kita membutuhkan ‘masa penyesuaian’ sebelum benar-benar ‘in’ kembali dengan pekerjaan yang sudah cukup lama ditinggalkan. Bagaimana seandainya ini adalah hari terakhir kita di kantor? Bergantung siapa kita selama ini. Jika selama ini kita adalah karyawan yang baik, maka kita ingin hari terakhir kita menjadi hari terbaik. Tetapi, jika selama ini kita karyawan yang buruk; maka hari terakhir boleh jadi merupakan hari ‘pelampiasan’ atas semua kekesalan. Itu dalam konteks pekerjaan. Bagaimana jika kita menariknya kedalam konteks kehidupan? Tepatnya; bagaimana seandainya ini adalah hari terakhir dalam hidup kita?

Guru kehidupan saya bercerita bahwa saat mencabut nyawa, malaikat kadang melakukannya secara kasar dan kadang secara halus. Konon, cara kita meninggal sedikit banyaknya dipengaruhi juga oleh cara kita menggunakan hidup. Malaikat maut berbuat lembut kepada orang-orang baik. Dan dia sama sekali tidak menaruh respek pada mereka yang selama hidupnya lebih banyak berbuat buruk. Saya yakin Anda pun sama seperti saya yang ingin dijemput malaikat maut dengan cara yang halus sehingga bisa mendapatkan kematian yang indah. Saya belum tahu caranya bagaimana. Tetapi, mungkin ada baiknya juga jika kita mengambil hikmah dari proses kematian yang indah orang-orang yang pernah mengalaminya. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar dari mereka yang mengalami kematian yang indah, saya ajak memulainya dengan mengasah kemampuan Natural Intellligence melalui 5 kisah kematian indah berikut ini:

1. Meninggal sesaat setelah beribadah.
Hari Kamis sehari setelah lebaran Rabu lalu, salah seorang tokoh di komplek perumahan kami wafat dalam usia 61 tahun. Saya menyimak penjelasan tentang bagaimana proses wafatnya. Beliau melaksanakan shalat subuh seperti biasanya. Selesai sholat itu, beliau tidak bisa berdiri. Beliau lalu duduk di kursinya, sambil mendengarkan keluarganya membacakan ayat suci Al-Quran. Saat pagi mulai terang, keluarganya meminta bantuan tetangga untuk memindahkan beliau ke kamar tidur. Rupanya, pada saat itu beliau diketahui sudah berpulang. Sungguh sebuah proses kematian yang indah. Dibalik ‘mengerikannya’ sebutannya, ternyata kematian bisa datang dengan sedemikian halus hingga orang-orang tidak menyadari jika malaikat maut telah menjemputnya. Selama saya mengenal tokoh masyarakat itu, saya tahu beliau adalah orang yang lembut, santun, dan respek pada orang lain. Tidak mudah untuk berjalan jauh bagi orang seusia beliau. Tetapi, pergi ke mesjid untuk sembahyang fardu bukanlah jalan yang terlalu berat. Malaikat maut telah memuliakan beliau dengan kematian yang sedemikian indahnya.

2. Meninggal saat melakukan pekerjaannya.
Kakek saya dari Ayah adalah orang yang berdedikasi tinggi kepada pekerjaannya. Profesinya adalah seorang petani, disawah yang tidak jauh dari rumahnya. Penampilan beliau sungguh sangat bersahaja, tampil apa adanya, namun setiap hari dijalaninya dengan ketelatenan merawat tanaman. Seperti hari-hari lainnya, kakek berangkat ke ladang dinasnya dengan pakaian khas petani. Biasanya beliau mengenakan semacam topi caping anyaman yang menjadi tudung, golok disandang dipinggang, dan cangkul dipanggul dipundak. Saat istirahat, kakek duduk di pematang sawah. Lama sekali duduknya, sehingga orang bertanya-tanya; mengapa selama itu? Setelah mendekatinya, kami baru mengetahui kalau beliau telah meninggal. Selama saya mengenal kakek, beliau adalah suami yang sangat mencintai istrinya. Mendedikasikan seluruh hidupnya untuk keluarganya. Dengan kesederhanaan penampilannya, beliau bekerja sepenuh dedikasinya. Saya tidak pernah mendengar beliau menggerutu pada pekerjaannya, bahkan ketika panen kami sedang kurang bagus. Bekerja adalah panggilan jiwanya, sehingga pada usianya yang terbilang senja, beliau tidak mau berhenti. Bekerja itu adalah bagian dari ibadah. Maka di tempat kerja, beliau mendedikasikan kemampuan terbaiknya. Ketika malaikat maut menjemputnya disawah tempatnya bekerja, malaikat itu melakukan tugasnya dengan sebaik-baiknya juga, sehingga itu menjadi sebuah kematian yang sangat indah.

3. Meninggal didalam kesabaran.
Nenek saya dari Ibu, telah memberi saya pengalaman yang tidak terlupakan. Beliau wafat pada saat saya berada disamping beliau. Itulah saat pertama kalinya saya menyaksikan sebuah proses kematian untuk pertama kalinya. Sebelum itu, saya pernah mendengar jika kematian adalah proses yang sangat menyakitkan. Mengingat hal itu, saya sering merasa takut dengan kematian yang terkesan mengerikan. Tetapi hari itu, semua pandangan saya tentang kematian berubah 180 derajat. Saat nenek meninggal, saya tidak melihat sesuatu yang menyakitkan. Mula-mula, kaki nenek menjadi dingin. Lalu dingin itu menjalar naik keatas, dan terus keatas. Saat menulis ini, tangan saya seolah masih merasakan dingin yang saya raba di tubuh nenek. Kemudian wajah nenek terkulai menyisakan seulas senyum dibibirnya. Wajahnya seperti bayi yang sedang tertidur. Sungguh sebuah kematian yang indah. Semasa hidup, saya mengenal nenek sebagai orang yang sabar. Bahkan dalam sakit yang dialaminya selama bertahun-tahun saya selalu melihatnya tersenyum. Beliau tidak bisa beranjak dari tempat tidurnya. Saat memeluk beliau setiap kali pulang saya merasakan betapa nenek bisa bertahan dalam kesabaran untuk menerima keadaan itu. Malaikat maut menjemputnya dengan penuh kesabaran juga. Dia menariknya perlahan-lahan dan tenang, hingga menjadikannya sebuah kematian yang sangat indah.

4. Meninggal setelah selesai memimpin.
Kakek saya dari Ibu memiliki pertalian emosi yang sangat dekat dengan saya. Begitu banyak kenangan yang saya miliki bersama beliau. Semuanya kenangan yang indah. Terakhir saya berjumpa beliau, saya sudah kuliah. Saat pulang ke kampung, saya menemui beliau yang sedang terbaring di tempat tidurnya. Saya kemudian pamit untuk pulang karena kuliah segera dimulai lagi. Belum sampai satu kilometer jarak yang saya tempuh, seseorang menyusul saya. Katanya, kakek ingin bertemu saya. Lho, bukankah barusan saya bertemu? Saat bertemu sekali lagi itu, beliau hanya mengatakan; ‘ingin melihat saya sekali lagi’. Rupanya, itulah pertemuan terakhir saya dengan beliau. Semasa hidupnya, beliau telah menjadi pemimpin yang lembut. Tutur katanya halus. Dan memperlakukan orang lain dengan baik. Saya tidak pernah mendengar beliau berbicara kasar kepada stafnya. Atau menghardik orang-orang yang dipimpinnya. Kisah-kisah kepemimpinan beliau yang diceritakan orang kepada saya memberi begitu banyak inspirasi. Menjadi pemimpin yang adil dan baik itu sungguh banyak untungnya. Diantaranya adalah; didoakan baik oleh banyak orang, dan disayangi oleh para malaikat yang mengawasinya di kiri dan kanan. Kakek menyambut datangnya kematian di tempat tidur yang hangat. Malaikat maut pun menjemputnya dengan cara yang baik, sehingga itu menjadi kematian yang sangat indah.

5. Meninggal dalam cinta yang terpelihara.
Hari Sabtu, tiga hari setelah lebaran Rabu lalu. Ibunda salah seorang tetangga kami wafat dalam usia 82 tahun, subuh sekitar jam 03.30. Saya beruntung mendapatkan cerita bagaimana proses kematiannya berangsung. Seperti biasanya, kalau orang sudah sepuh suka terbangun di malam hari. Kebanyakan orang sudah sepuh yang saya kenal seperti itu. Mungkin memang orang-orang yang dikarunia panjang umur sengaja dikasih Tuhan kesempatan untuk banyak bermunajat di malam hening. Jam 2 pagi, sang Bunda terbangun seperti biasanya. Namun, hari ini agak berbeda. Beliau berdandan mempercantik diri. Waktu ditanya keluarga kenapa kok berdandan segala, beliau bilang;”Suamiku datang tuh, aku mau pergi dulu…….” Keluarga baru memahami kata-katanya saat beliau wafat sehabis berdandan itu. Cinta beliau kepada suaminya sungguh sedemikian dalam. Cinta itu tetap terpelihara hingga usianya yang senja. Malaikat maut menjemputnya dengan pesan cinta dari sang suami yang sudah mendahuluinya, sehingga itu menjadi kematian yang sangat indah.

Kita, tidak pernah benar-benar mengetahui kapan akan dijemput oleh malaikat maut. Mungkin saat kita bersembahyang dalam munajat kepada Yang Maha Hidup. Mungkin saat sedang melakukan pekerjaan seperti biasanya. Mungkin juga ketika tengah berdzikir sambil terbaring sakit. Mungkin disaat santai setelah menyelesaikan amanah yang kita emban. Atau, mungkin juga dimalam hening seseorang menjemput kita untuk pulang. Kita tidak pernah tahu kapan. Tetapi, saya sangat ingin sekali jika saat mencabut nyawa saya; malaikat melakukannya dengan proses yang sedemikian indahnya. Seindah kisah-kisah kematian yang dialami pribadi-pribadi yang bisa menjaga dirinya untuk tetap berada di jalur yang disukai oleh Tuhan. Semasa hidup, mereka terus menjaga kesucian diri dan menghindari keburukan karena tak seorang pun tahu apakah ini hari terakhir baginya atau bukan. Maka pantaslah jika saat menjemput, malaikat maut mendapatinya sedang berbuat baik. Wajar jika malaikat yang suka kebaikan itu melakukan tugasnya – mencabut nyawa – dengan cara yang paling baik bagi hamba-hamba Tuhan yang istiqamah dalam berbuat kebaikan. Semoga Tuhan memperkenankan kita mendapatkan kematian yang indah.

Jika selama hidup kita bisa menjaga keimanan dan kesucian diri, mungkin kita boleh meminta malaikat maut mencabut nyawa kita dengan cara yang lembut hingga kita beroleh kematian yang indah.

DK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s